
TRAILER TERIKAT JANJI HARI INI EPISODE 184 Ketika Janji Manis Berubah Menjadi Petaka Maut
Description: TRAILER TERIKAT JANJI HARI INI EPISODE 184 Bayangan Gelap di Balik Senyuman: Ketika Janji Manis Berubah Menjadi Petaka Maut.
Mentari pagi baru saja memeluk pelataran kantor Kusuma Food ketika Sena menghampiri Davina yang terpaku di dekat meja kerja. Dengan senyuman hangat, Sena menyapa, "Good morning." Davina membalas pelan, "Morning." Sena menatapnya bingung seraya bertanya, "Kenapa kok nggak langsung masuk, hmm?" Davina menghela napas panjang, menyembunyikan gemetar di jemarinya sebelum berkata, "Enggak. Aku jadi... aku mikir aja, kalau memang kamu benar-benar resign dari Kusuma Food, nanti hal-hal simpel kayak gini, kamu nganterin aku ke kantor, jemput aku pagi-pagi, nganter pulang lagi, udah nggak bisa dong." Sena langsung merengkuh pundaknya, meyakinkan dengan lembut, "Bisa. Cuman mungkin udah nggak sering. Kan masih bisa cari waktu di luar kantor. Aku juga bisa masih main ke rumah. Ya kalau misalkan lagi nggak ada tugas, aku bisa main ke kantor Kusuma Food, bisa makan siang, bisa dinner, ada waktu luang, bisa jemput kamu." Davina mendengarkan dengan binar penuh harap, "Benar?" Di dalam hatinya, Sena berbisik getir, walaupun setelah ini gua udah balik ke Boston, gua kan masih bisa balik ke Indonesia dua minggu sekali, atau seminggu sekali kalau perlu, pokoknya gua akan cari cara supaya gua tetap bisa bersama-sama Davina. Sena kembali menegaskan, "Benar." Davina menagih dengan mata berkaca-kaca, "Janji?" Sambil tersenyum tipis, Sena mengangguk, "Ya. Yuk, masuk."
Langkah kaki Sena meninggalkan lobi kantor beberapa jam kemudian bergesa-gesa hingga nyaris menabrak Galih, sang office boy Kusuma Food. "Eh, sorry," ujar Sena spontan. Galih tertawa kecil dan menggoda, "Pak, mau ke mana buru-buru amat?" Sena menjawab kilat, "Jemput Bu Davina. Jangan meleng!" Galih menggelengkan kepalanya penuh kekaguman, "Hebat ya Pak Sena. Bu Davina diratukan banget. Udah berangkat kantor dianterin, pulangnya dijemput. Semoga sampai ke pelaminan ya, Pak, nanti. Nanti nih, kalau terjadi, pernikahannya Senada pasti gong banget nih, lebih-lebih dari Bu Jihan sama Pak Dipa. Semoga ya Pak, apa yang dicita-citakan bapak tercapai, amin! Nanti Galih nyusul!"
Jarak memisahkan Sena yang kini sudah berada di dalam mobilnya di area parkir Taman Tulip Indah, tempat yang mendadak diminta Davina untuk menjemputnya. Ponselnya berdering keras, menampilkan panggilan dari Dion dan Reza. Sena segera mengangkatnya, "Iya, Yon." Di ujung sana, suara Dion terdengar tegang, "Lapor, Sen. Gua sama Reza udah ngecek pelaku-pelaku penyerangan Bilal di apartemen. Yang kelihatan di CCTV itu ada tiga orang." Sena langsung merespons tajam, "Oke, kirim ke grup kita ya foto-fotonya." Dion menyahut, "Oke, nih dikirim sama Reza nih ke lu, entar. Biar lu bisa lihat, siapa tahu lu ada kenal wajah-wajah dari orang-orang ini ya." Reza menimpali cepat dari latar belakang, "Udah, Yon." Dion mengonfirmasi, "Udah, udah dikirim." Sena menjawab, "Oke, oke. Oke, sebentar." Dion penasaran, "Gimana, Sen? Ada yang lu kenal nggak?" Sena menggeleng meski tak terlihat, "Nggak ada, Yon. Coba lu cek wajah orang-orang ini di database kepolisian ya. Apa mereka terkait dengan kasus-kasus yang pernah kita tangani, atau ini orangnya Dipa Andika mungkin?" Dion terhenyak, "Oh, apa menurut lu Dipa Andika dalang dari penyerangan semua ini?" Sena berkata dingin, "Gue belum tahu. Tapi kalau memang targetnya gue, bisa jadi pelakunya Dipa. Kita harus waspada dengan segala kemungkinan, kan?" Dion setuju, "Iya, Sen. Ya udah, ini gue cek dulu deh, habis itu gue update ke lu ya." Sena menutup dengan singkat, "Oke, thanks." Dion merespons, "Ya, ya, oke." Sementara di seberang sana, Reza bertanya kepada Dion, "Gimana, Yon?" Dion menjelaskan, "Sena bilang, foto-foto orang-orang itu kirim dulu ke database kepolisian, siapa tahu nanti ketahuan orang-orang itu siapa." Reza mengangguk, "Oke." Dion menutup sambungan, "Ya."
Suasana berubah mencekam setibanya Sena di area dalam Taman Tulip Indah. Matanya menyapu sekeliling sambil bergumam seorang diri, "Sebelah mana ya?" Jari-jarinya dengan cepat mengetik pesan kepada Davina: "Aku sudah sampai, kamu di mana?" Tak lama kemudian, sebuah balasan masuk dari nomor Davina: "Aku udah di dalam." Sena membaca pesan itu dengan kening berkerut, "Oh, di dalam, oke. Tumben banget minta dijemput di taman ini. Ngapain minta dijemput di sini? Ini belum dua jam loh, baru satu jam lebih lah." Langkahnya terhenti ketika melihat sesosok wanita berdiri membelakanginya. Mengira itu adalah kekasihnya, ia memanggil penuh cinta, "Love!" Wanita itu berbalik, dan seketika mata Sena membelalak kaget mendapati wajah asing. Sontak ia mundur sambil membungkuk sopan, "Hei, Love! Maaf, Mbak, saya... maaf, maaf, maaf!"
Napas Sena tercekat, tetapi sebelum ia sempat menyadari jebakan maut tersebut, sebuah hantaman benda tumpul menghantam keras tengkuknya dari belakang.
#terikatjanjihariini #terikatjanjifullepisode #trailerterikatjanji Close description
Mentari pagi baru saja memeluk pelataran kantor Kusuma Food ketika Sena menghampiri Davina yang terpaku di dekat meja kerja. Dengan senyuman hangat, Sena menyapa, "Good morning." Davina membalas pelan, "Morning." Sena menatapnya bingung seraya bertanya, "Kenapa kok nggak langsung masuk, hmm?" Davina menghela napas panjang, menyembunyikan gemetar di jemarinya sebelum berkata, "Enggak. Aku jadi... aku mikir aja, kalau memang kamu benar-benar resign dari Kusuma Food, nanti hal-hal simpel kayak gini, kamu nganterin aku ke kantor, jemput aku pagi-pagi, nganter pulang lagi, udah nggak bisa dong." Sena langsung merengkuh pundaknya, meyakinkan dengan lembut, "Bisa. Cuman mungkin udah nggak sering. Kan masih bisa cari waktu di luar kantor. Aku juga bisa masih main ke rumah. Ya kalau misalkan lagi nggak ada tugas, aku bisa main ke kantor Kusuma Food, bisa makan siang, bisa dinner, ada waktu luang, bisa jemput kamu." Davina mendengarkan dengan binar penuh harap, "Benar?" Di dalam hatinya, Sena berbisik getir, walaupun setelah ini gua udah balik ke Boston, gua kan masih bisa balik ke Indonesia dua minggu sekali, atau seminggu sekali kalau perlu, pokoknya gua akan cari cara supaya gua tetap bisa bersama-sama Davina. Sena kembali menegaskan, "Benar." Davina menagih dengan mata berkaca-kaca, "Janji?" Sambil tersenyum tipis, Sena mengangguk, "Ya. Yuk, masuk."
Langkah kaki Sena meninggalkan lobi kantor beberapa jam kemudian bergesa-gesa hingga nyaris menabrak Galih, sang office boy Kusuma Food. "Eh, sorry," ujar Sena spontan. Galih tertawa kecil dan menggoda, "Pak, mau ke mana buru-buru amat?" Sena menjawab kilat, "Jemput Bu Davina. Jangan meleng!" Galih menggelengkan kepalanya penuh kekaguman, "Hebat ya Pak Sena. Bu Davina diratukan banget. Udah berangkat kantor dianterin, pulangnya dijemput. Semoga sampai ke pelaminan ya, Pak, nanti. Nanti nih, kalau terjadi, pernikahannya Senada pasti gong banget nih, lebih-lebih dari Bu Jihan sama Pak Dipa. Semoga ya Pak, apa yang dicita-citakan bapak tercapai, amin! Nanti Galih nyusul!"
Jarak memisahkan Sena yang kini sudah berada di dalam mobilnya di area parkir Taman Tulip Indah, tempat yang mendadak diminta Davina untuk menjemputnya. Ponselnya berdering keras, menampilkan panggilan dari Dion dan Reza. Sena segera mengangkatnya, "Iya, Yon." Di ujung sana, suara Dion terdengar tegang, "Lapor, Sen. Gua sama Reza udah ngecek pelaku-pelaku penyerangan Bilal di apartemen. Yang kelihatan di CCTV itu ada tiga orang." Sena langsung merespons tajam, "Oke, kirim ke grup kita ya foto-fotonya." Dion menyahut, "Oke, nih dikirim sama Reza nih ke lu, entar. Biar lu bisa lihat, siapa tahu lu ada kenal wajah-wajah dari orang-orang ini ya." Reza menimpali cepat dari latar belakang, "Udah, Yon." Dion mengonfirmasi, "Udah, udah dikirim." Sena menjawab, "Oke, oke. Oke, sebentar." Dion penasaran, "Gimana, Sen? Ada yang lu kenal nggak?" Sena menggeleng meski tak terlihat, "Nggak ada, Yon. Coba lu cek wajah orang-orang ini di database kepolisian ya. Apa mereka terkait dengan kasus-kasus yang pernah kita tangani, atau ini orangnya Dipa Andika mungkin?" Dion terhenyak, "Oh, apa menurut lu Dipa Andika dalang dari penyerangan semua ini?" Sena berkata dingin, "Gue belum tahu. Tapi kalau memang targetnya gue, bisa jadi pelakunya Dipa. Kita harus waspada dengan segala kemungkinan, kan?" Dion setuju, "Iya, Sen. Ya udah, ini gue cek dulu deh, habis itu gue update ke lu ya." Sena menutup dengan singkat, "Oke, thanks." Dion merespons, "Ya, ya, oke." Sementara di seberang sana, Reza bertanya kepada Dion, "Gimana, Yon?" Dion menjelaskan, "Sena bilang, foto-foto orang-orang itu kirim dulu ke database kepolisian, siapa tahu nanti ketahuan orang-orang itu siapa." Reza mengangguk, "Oke." Dion menutup sambungan, "Ya."
Suasana berubah mencekam setibanya Sena di area dalam Taman Tulip Indah. Matanya menyapu sekeliling sambil bergumam seorang diri, "Sebelah mana ya?" Jari-jarinya dengan cepat mengetik pesan kepada Davina: "Aku sudah sampai, kamu di mana?" Tak lama kemudian, sebuah balasan masuk dari nomor Davina: "Aku udah di dalam." Sena membaca pesan itu dengan kening berkerut, "Oh, di dalam, oke. Tumben banget minta dijemput di taman ini. Ngapain minta dijemput di sini? Ini belum dua jam loh, baru satu jam lebih lah." Langkahnya terhenti ketika melihat sesosok wanita berdiri membelakanginya. Mengira itu adalah kekasihnya, ia memanggil penuh cinta, "Love!" Wanita itu berbalik, dan seketika mata Sena membelalak kaget mendapati wajah asing. Sontak ia mundur sambil membungkuk sopan, "Hei, Love! Maaf, Mbak, saya... maaf, maaf, maaf!"
Napas Sena tercekat, tetapi sebelum ia sempat menyadari jebakan maut tersebut, sebuah hantaman benda tumpul menghantam keras tengkuknya dari belakang.
#terikatjanjihariini #terikatjanjifullepisode #trailerterikatjanji Close description