
FULL TERIKAT JANJI HARI INI EPISODE 182 Ketika Cinta Harus Mengalah pada Rahasia Masa Lalu
Description: FULL TERIKAT JANJI HARI INI EPISODE 182 Ketika Cinta Harus Mengalah pada Rahasia Masa Lalu.
Suasana kantor sore itu terasa senyap ketika Davina berdiri di depan meja kerjanya, bersiap-siap merapikan barang dan berdandan sejenak sebelum kepulangannya. Di tengah kesibukannya, ia sama sekali tidak menyadari pantulan bayangan di cermin yang memperlihatkan sosok Sena telah berdiri tepat di belakangnya. Sontak, rasa malu menyelimuti hatinya begitu ia berbalik dan mendapati Sena sudah mengetuk pintu ruangan.
Di tempat lain, sebuah ketegangan berbeda tengah mencengkeram Sena. Pertemuannya dengan sang ayah, Pak Hendri, mendadak berubah menjadi sebuah interogasi dingin yang penuh tekanan. “Sekarang, seberapa cepat kamu bisa packing? Besok kita bisa berangkat. Kalau bisa, Papa akan reschedule penerbangan kita,” ujar Pak Hendri tegas. Sena menggeleng pelan, mencoba menolak desakan itu. “Aku belum mengajukan surat pengunduran diri dari kepolisian. Pa, butuh waktu.” Mendengar jawaban itu, kemarahan Pak Hendri langsung memuncak. “Kamu ini! Kamu ini main-main ya? Kamu pikir ini main-main, Angga? Kamu udah nggak bisa main-main lagi. Urus pengunduran diri kamu besok, dan Papa kasih waktu kamu tiga hari untuk urusin itu semua. Angga, kamu dengar kan?” “Iya, Pak,” jawab Sena pasrah. “Good, duduk,” perintah Pak Hendri, lalu melanjutkan dengan nada menyelidik, “Sudah ada kabar tentang Rian?” “Belum,” jawab Sena singkat. Pak Hendri mendengus sinis, meluapkan kekesalan yang dipendamnya selama bertahun-tahun. “8 tahun. Ya, 8 tahun. 8 tahun kamu sia-siakan hidup kamu menjadi seorang polisi, ternyata kamu gagal. Kamu bisa bayangkan nggak, berapa banyak peluang bisnis yang kamu lewatkan dalam 8 tahun, hanya gara-gara kamu mencari Rian? Mulai sekarang, kamu fokus ke diri kamu sendiri, nggak usah pikirkan orang lain. Dan untuk urusan Rian, biar Veronica yang urus.” Sena tersentak mendengar ucapan ayahnya. Emosinya yang selama ini tertahan akhirnya tumpah juga. “Orang lain? Rian adikku, Pa! Anak Papa! Mama udah cerita semuanya ke aku, Pa. Kenapa Papa nggak peduli sama Rian? Kenapa Papa nggak mau bantu aku buat cari Rian? Karena waktu itu Mama bilang ke Papa, kalau Rian bukan anak kandung, Papa-papa percaya gitu aja? Kenapa nggak coba dicari tahu? Kenapa nggak coba tes DNA? Kenapa? Bukan seperti Papa yang biasanya, biasa semuanya dicari tahu, kenapa ini nggak? Papa bisa dengan gampangnya mencari Rian dengan kekuatannya Papa. Kenapa, Pa? Karena Papa itu pengen cepet-cepet pisah sama Mama, kan itu alasannya kan? Papa mau pergi, Papa mau mengejar cinta pertama Papa!” Mendengar tuduhan itu, Pak Hendri membentak keras, memotong ucapan putranya. “Cukup! Cukup, Angga! Semua orang pada akhirnya akan peduli pada diri dia sendiri, termasuk kamu. Kita berangkat tiga hari lagi, dan jangan ada tawar-menawar!”
Kembali ke masa kini, perjalanan malam di dalam mobil yang melaju membawa Sena dan Davina dalam keheningan yang canggung. Memecah sunyi, Davina mencoba membuka percakapan. “Jadi kita langsung pulang atau makan dulu?” Sena melirik sekilas sebelum menjawab, “Langsung pulang aja ya. Kan kamu baru pulang dari Malaysia, baru mendarat, langsung ke Kusuma Food, langsung kerja. Aku tahu kamu pasti capek. Makannya bisa besok, nggak papa ya?” “Ya,” jawab Davina singkat, lalu menyelipkan rasa penasarannya, “Jadi, kamu mau ngomong apa sama aku?” “Jadi—” kata Sena terpotong. “Jadi?” kejar Davina. “Aku mau bilang—” “Bilang apa, Sena?” tanya Davina tak sabar. “Kan... kasus Dipa udah selesai.” Di dalam hatinya, jantung Davina berdegup kencang penuh harap, (Apa Sena mau kenalin aku ke orang tuanya ya?) Namun, lanjutan kalimat Sena seketika memupus seluruh angan-angan manis itu. “Eh, jadi aku mau bilang, kalau... aku sudah nggak bisa kerja lagi di Kusuma Food. Pekerjaanku yang asli kan ada di polres. Komandan dan rekan-rekanku pasti akan tanya, kenapa aku masih ada di Kusuma Food padahal Dipa sudah ditangkap? Jadi, ya aku harus keluar pastinya.” “Jadi udah nggak akan ke Kusuma Food lagi?” tanya Davina dengan nada kecewa. Sena mencoba menenangkan, “Semuanya masih tetap akan sama kok, Davina. Cuman bedanya, aku sama kamu sudah nggak sering ketemu di Kusuma Food lagi, tapi di luar itu kan bisa. Nggak papa kan?” “Hah?” ucap Davina terkejut. “Nggak papa kan?” ulang Sena. Di dalam lubuk hatinya, Davina meretih dalam kekecewaan yang mendalam, (Aku pikir Sena bakal ngomongin soal hubungan aku sama dia, ternyata bukan itu...)
#terikatjanjihariini #terikatjanjifullepisode #trailerterikatjanji Close description
Suasana kantor sore itu terasa senyap ketika Davina berdiri di depan meja kerjanya, bersiap-siap merapikan barang dan berdandan sejenak sebelum kepulangannya. Di tengah kesibukannya, ia sama sekali tidak menyadari pantulan bayangan di cermin yang memperlihatkan sosok Sena telah berdiri tepat di belakangnya. Sontak, rasa malu menyelimuti hatinya begitu ia berbalik dan mendapati Sena sudah mengetuk pintu ruangan.
Di tempat lain, sebuah ketegangan berbeda tengah mencengkeram Sena. Pertemuannya dengan sang ayah, Pak Hendri, mendadak berubah menjadi sebuah interogasi dingin yang penuh tekanan. “Sekarang, seberapa cepat kamu bisa packing? Besok kita bisa berangkat. Kalau bisa, Papa akan reschedule penerbangan kita,” ujar Pak Hendri tegas. Sena menggeleng pelan, mencoba menolak desakan itu. “Aku belum mengajukan surat pengunduran diri dari kepolisian. Pa, butuh waktu.” Mendengar jawaban itu, kemarahan Pak Hendri langsung memuncak. “Kamu ini! Kamu ini main-main ya? Kamu pikir ini main-main, Angga? Kamu udah nggak bisa main-main lagi. Urus pengunduran diri kamu besok, dan Papa kasih waktu kamu tiga hari untuk urusin itu semua. Angga, kamu dengar kan?” “Iya, Pak,” jawab Sena pasrah. “Good, duduk,” perintah Pak Hendri, lalu melanjutkan dengan nada menyelidik, “Sudah ada kabar tentang Rian?” “Belum,” jawab Sena singkat. Pak Hendri mendengus sinis, meluapkan kekesalan yang dipendamnya selama bertahun-tahun. “8 tahun. Ya, 8 tahun. 8 tahun kamu sia-siakan hidup kamu menjadi seorang polisi, ternyata kamu gagal. Kamu bisa bayangkan nggak, berapa banyak peluang bisnis yang kamu lewatkan dalam 8 tahun, hanya gara-gara kamu mencari Rian? Mulai sekarang, kamu fokus ke diri kamu sendiri, nggak usah pikirkan orang lain. Dan untuk urusan Rian, biar Veronica yang urus.” Sena tersentak mendengar ucapan ayahnya. Emosinya yang selama ini tertahan akhirnya tumpah juga. “Orang lain? Rian adikku, Pa! Anak Papa! Mama udah cerita semuanya ke aku, Pa. Kenapa Papa nggak peduli sama Rian? Kenapa Papa nggak mau bantu aku buat cari Rian? Karena waktu itu Mama bilang ke Papa, kalau Rian bukan anak kandung, Papa-papa percaya gitu aja? Kenapa nggak coba dicari tahu? Kenapa nggak coba tes DNA? Kenapa? Bukan seperti Papa yang biasanya, biasa semuanya dicari tahu, kenapa ini nggak? Papa bisa dengan gampangnya mencari Rian dengan kekuatannya Papa. Kenapa, Pa? Karena Papa itu pengen cepet-cepet pisah sama Mama, kan itu alasannya kan? Papa mau pergi, Papa mau mengejar cinta pertama Papa!” Mendengar tuduhan itu, Pak Hendri membentak keras, memotong ucapan putranya. “Cukup! Cukup, Angga! Semua orang pada akhirnya akan peduli pada diri dia sendiri, termasuk kamu. Kita berangkat tiga hari lagi, dan jangan ada tawar-menawar!”
Kembali ke masa kini, perjalanan malam di dalam mobil yang melaju membawa Sena dan Davina dalam keheningan yang canggung. Memecah sunyi, Davina mencoba membuka percakapan. “Jadi kita langsung pulang atau makan dulu?” Sena melirik sekilas sebelum menjawab, “Langsung pulang aja ya. Kan kamu baru pulang dari Malaysia, baru mendarat, langsung ke Kusuma Food, langsung kerja. Aku tahu kamu pasti capek. Makannya bisa besok, nggak papa ya?” “Ya,” jawab Davina singkat, lalu menyelipkan rasa penasarannya, “Jadi, kamu mau ngomong apa sama aku?” “Jadi—” kata Sena terpotong. “Jadi?” kejar Davina. “Aku mau bilang—” “Bilang apa, Sena?” tanya Davina tak sabar. “Kan... kasus Dipa udah selesai.” Di dalam hatinya, jantung Davina berdegup kencang penuh harap, (Apa Sena mau kenalin aku ke orang tuanya ya?) Namun, lanjutan kalimat Sena seketika memupus seluruh angan-angan manis itu. “Eh, jadi aku mau bilang, kalau... aku sudah nggak bisa kerja lagi di Kusuma Food. Pekerjaanku yang asli kan ada di polres. Komandan dan rekan-rekanku pasti akan tanya, kenapa aku masih ada di Kusuma Food padahal Dipa sudah ditangkap? Jadi, ya aku harus keluar pastinya.” “Jadi udah nggak akan ke Kusuma Food lagi?” tanya Davina dengan nada kecewa. Sena mencoba menenangkan, “Semuanya masih tetap akan sama kok, Davina. Cuman bedanya, aku sama kamu sudah nggak sering ketemu di Kusuma Food lagi, tapi di luar itu kan bisa. Nggak papa kan?” “Hah?” ucap Davina terkejut. “Nggak papa kan?” ulang Sena. Di dalam lubuk hatinya, Davina meretih dalam kekecewaan yang mendalam, (Aku pikir Sena bakal ngomongin soal hubungan aku sama dia, ternyata bukan itu...)
#terikatjanjihariini #terikatjanjifullepisode #trailerterikatjanji Close description